20 October 2007

Guru Inggris Takut Mengajar Evolusi, Gara-Gara Didebat Muridnya

Rabu, 10 Oktober 2007

BBC melaporkan adanya ketakutan sebagian guru untuk berdebat masalah
evolusi, sehingga menghindari bahasan itu sama sekali di kelas

Hidayatullah. com--Menurut direktur London's Institute of Education,
Profesor Michael Reiss, meningkatnya jumlah murid Muslim di
sekolah-sekolah Inggris adalah di antara pemicu bangkitnya paham
penciptaan. Ia menambahkan, jumlah pelajar Muslim meningkat pesat
dalam 10 – 20 tahun terakhir, dan banyak dari keluarga Muslim tidak
meyakini teori evolusi dibandingkan dengan keluarga Kristen.


Semakin banyak guru yang ia jumpai di pertemuan-pertemuan ilmiah
mengadukan hal ini. Para guru itu mendapati semakin banyak murid
menganut penciptaan, kisah sang Profesor. Sudah bukan zamannya lagi
para guru ilmu pengetahuan alam dapat mengabaikan begitu saja paham
penciptaan ketika mengajarkan tentang asal usul, ungkap Profesor Reiss
sebagaimana dikutip koran terkemuka Inggris, The Independent, 6
Oktober 2007. Guru-guru itu hendaknya menanggapi bahasan itu dengan
cara yang tidak memusuhi, tegas sang Profesor.

Buah Bibir di Media Massa

Harian tersohor lain di Inggris, The Daily Telegraph dan The Guardian,
tak ketinggalan mengangkat bahasan yang sepertinya akan memanas di
masa mendatang ini. Tampil dengan judul Creationism can be a topic in
class (Paham penciptaan dapat menjadi pokok bahasan di kelas), koran
The Daily Telegraph, 2 Oktober 2007, memaparkan kebijakan pemerintah
Inggris seputar paham penciptaan di sekolah.

Arahan resmi ini membolehkan perbincangan seputar paham penciptaan
yang menjadi tandingan evolusi, teori yang mengingkari penciptaan dan
Pencipta. Namun, menurut kebijakan ini, pembahasan tentang penciptaan
harus di luar pelajaran ilmu pengetahuan alam.

Para akademisi di Valdosta State University, Amerika Serikat dan The
Institute of Education di London, Inggris, berpendapat bahwa teori
evolusi sepatutnya diajarkan sebagai bagian penting pelajaran ilmu
pengetahuan alam, dengan memberi ruang bagi perbincangan paham
penciptaan. Demikian tulis Anthea Lipsett di koran kondang The
Guardian, 5 Oktober 2007, dengan judul Experts call for creationism in
the classroom (Para pakar menyeru [diajarkannya] paham penciptaan di
ruang kelas).

Perancangan Cerdas Tidak Puas

Meskipun begitu, kalangan pendukung Perancangan Cerdas (Intelligent
Design) belum puas dengan keputusan ini. Mereka berdalih, Perancangan
Cerdas didukung bukti-bukti ilmiah mutakhir, sehingga seharusnya
menjadi bagian pelajaran ilmu pengetahuan alam, dan mendapatkan
perlakuan sama seperti teori evolusi. Perancangan Cerdas menganggap
alam semesta dirancang sempurna dan dihasilkan melalui perancangan
cerdas, bertolak belakang dengan teori evolusi yang meyakini alam
semesta ada dengan sendirinya secara kebetulan acak, tanpa penciptaan
dan menolak adanya Pencipta.

Truth in Science merupakan salah satu lembaga di Inggris yang paling
giat mendorong diajarkannya pandangan lain yang kritis terhadap teori
evolusi di sekolah. Di lembaga ini, terdapat nama-nama seperti Andy
McIntosh, profesor Termodinamika dan Teori Pembakaran di University of
Leeds dan penulis lebih dari 100 karya ilmiah penelitian.
Penelitiannya mencakup pula biomimetika, yang mempelajari mekanisme
alamiah untuk penerapannya di bidang rekayasa.

Ada juga Stuart Burgess, profesor Desain dan Alam, ketua jurusan
Teknik Mesin di Bristol University. Ia meneliti penelaahan mekanisme
terbang serangga dan efisiensi rancang bangun pada pohon.

Paket Gratis

Truth in Science melakukan kerja nyata dengan membagi-bagikan paket
gratis berisi bahan pengajaran kritis teori evolusi. Pada bulan
September 2006, paket gratis ini dikirimkan kepada setiap kepala
sekolah menengah di Inggris.

Paket ini berisi DVD berjudul Where does the Evidence Lead? (Ke
manakah Bukti Mengarah?) dan buku panduan untuk guru (bentuk pdf-nya
dapat diunduh di TiS_Pack_Teachers_ Manual.pdf

DVD ini terdiri atas enam bab, masing-masing berupa film dokumenter
berdurasi 6 menit, cocok untuk pengajaran di sekolah. Paket ini berisi
pula DVD film dokumenter panjang berjudul Unlocking the Mystery of
Life (Menyingkap Rahasia Kehidupan).

Sumber: Kolom Teori Evolusi Menanti Ajal, www.hidayatullah. com

Read More......

10 October 2007

Tren Pembaharuan Pemikiran dalam Islam

Tren Pembaharuan Pemikiran dalam Islam
Oleh: : Ibnu Djarir


KEMUNCULAN gerakan pembaharuan pemikiran dalam pemahaman ajaran agama adalah
hal yang wajar dan logis, karena budaya manusia selalu berkembang. Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi juga sangat berpengaruh pada pola pikir
manusia, termasuk dalam memahami teks-teks agama. Namun, satu prinsip yang
perlu selalu dipegang adalah bahwa pembaharuan itu hendaknya tidak
menghilangkan inti dari ajaran agama itu sendiri. Bila inti ajaran agama itu
hilang, maka namanya bukan lagi pembaharuan, tetapi perusakan atau
penggantian dengan hasil pikiran manusia sendiri tanpa mengindahkan inti
ajaran agama yang pada dasarnya berasal dari wahyu Tuhan.

Menelusuri alur pembaharuan pemikiran dalam Islam, bisa dimulai dengan
menyimak pembaharuan pemikiran pada tahap pramodernis. Pelopornya adalah
Muhammad ibn Abdul Wahab. Dia berpendapat, pada masa itu di kalangan umat
Islam sudah banyak terjadi penyimpangan dalam pemahaman dan pengamalan
ajaran Islam. Oleh karena itu, dia menyerukan kepada umat Islam untuk
kembali pada kemurnian dan keaslian ajaran Islam berdasarkan Alquran dan
Hadis.

Ide-ide pembaharuan Abdul Wahab itu memang menyangkut banyak masalah,
seperti anjuran untuk melaksanakan ijtihad, dan seruan untuk menjauhi
taklid, tahayul, bidah, khurafat, praktik tarikat yang menyimpang, dan
fatalisme. Dia juga menyerukan kepada umat Islam untuk melakukan jihad
melawan kezaliman, kebatilan, dan kemaksiatan.

Menurut Prof Dr Harun Nasution (almarhum), gerakan pembaharuan Abdul Wahab
itu bersikap antibudaya asing, dan cenderung literalis.

Adapun gerakan pembaharuan yang mulai membuka diri terhadap pengaruh budaya
Barat adalah mereka yang digolongkan pada kaum modernis. Tokoh-tokohnya yang
terkemuka adalah Sayyid Ahmad Khan, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh,
dan Muhammad Rasyid Ridha. Dari tokoh-tokoh tersebut, Sayyid Ahmad Khan
tampak lebih menekankan pada pemikiran yang rasional dan liberal.

Seperti pendahulunya, mereka juga menyerukan kepada umat Islam untuk kembali
pada kemurnian dan keaslian Islam, melakukan ijtihad, menjauhi taklid dan
fatalisme. Namun mereka menganjurkan umat Islam untuk membuka diri terhadap
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang datang dari dunia Barat, demi
kemajuan umat Islam sendiri. Tetapi mereka mengingatkan umat Islam agar
tidak hanyut dalam budaya asing. Di antara usaha-usahanya ialah mendirikan
sekolah-sekolah Islam modern, dan mengambil langkah-langkah untuk
pembaharuan dalam bidang sosial dan politik.

Gerakan pembaharuan yang muncul berikutnya adalah gerakan kaum neomodernis.
Gerakan ini ingin memadukan antara khazanah Islam klasik dengan modernitas.
Pada tahap ini muncul gerakan-gerakan sosial dan politik yang terorganisasi
secara modern. Meski gerakan ini banyak menimba kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi dari dunia Barat, namun mereka ingin tetap mempertahankan
keotentikan identitas Islam, sehingga mereka berprinsip, modernisasi Islam
tidak identik dengan westernisasi.

Mata Rantai
Menurut Prof Fazlur Rahman (almarhum), guru besar pada McGill University,
Kanada, gerakan pembaharuan pemikiran dalam Islam merupakan mata rantai yang
sambung menyambung.

Gerakan pembaharuan pramodernis menekankan pada pelaksanaan ijtihad,,
reformasi dan purifikasi. Kaum modernis berupaya untuk menafsirkan ajaran
Islam sesuai dengan perkembangan zaman dan kehidupan modern yang dibentuk
oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kaum modernis melakukan ijtihad tidak terbatas pada masalah agama saja,
tetapi diperluas sehingga menyangkut penerapan ajaran Islam dalam kehidupan
sosial, ekonomi dan politik. Kaum modernis ini dapat dibagi dua, yaitu kaum
modernis klasik yang masih menunjukkan sikap hati-hati terhadap budaya
Barat, dan kaum modernis kontemporer yang bersikap akomodatif terhadap
budaya Barat. Sedangkan kaum neomodernis berupaya melakukan rekonstruksi
Islam dengan memadukan khazanah intelektual Islam dengan budaya modern.

Perkembangan taraf pendidikan umat Islam, terutama dengan maraknya
kemunculan lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam, mendorong makin
banyaknya para pemikir Islam yang berupaya melakukan reinterpretasi terhadap
ajaran Islam dan mereformulasi doktrin-doktrin Islam masa lalu. Mereka
mencoba untuk melakukan ijtihad menurut kapasitasnya masing-masing.

Ada yang melakukan ijtihad secara individual, dan ada pula yang secara
kolektif (jama'i). Di Indonesia, contoh ijtihad jama'i, seperti Majlis
Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam pada organisasi Muhammadiyah,
Lembaga Syuriyah pada organisasi Nahdlatul Ulama, dan Komisi Fatwa pada
Majelis Ulama Indonesia ( MUI ). Pada masa sekarang ini, dengan banyaknya
para pakar dalam berbagai disiplin ilmu, pelaksanaan ijtihad jama'i
tampaknya lebih meyakinkan kebenarannya, sebab beberapa pakar saling
bertukarpikiran sesuai dengan bidang keahlian masing-masing untuk mengambil
keputusan bersama. Sedangkan terhadap pendapat-pendapat pribadi, atau
ijtihad individual, kita masih harus meneliti profesionalitas dan integritas
pribadi yang bersangkutan.

Di media massa, sering terlontar pendapat-pendapat pribadi mengenai
masalahmasalah keagamaan yang membingungkan atau menggelisahkan masyarakat.
Seperti pendapat yang menyatakan bahwa zakat sama dengan pajak. Jadi, dengan
penerapan melalui pajak, sudah mencakup zakat. Pendapat yang lain, hewan dam
dari orang yang melakukan ibadah haji boleh saja disembelih di kampung
halaman masing-masing. Ada pula yang berpendapat, hewan kurban berkaitan
dengan Idul Adha, boleh diganti dengan ayam, ikan, uang, dan sebagainya,
tanpa ada proses penyembelihan. Pendapat lain menyatakan, ibadah haji tidak
harus pada bulan Dzulhijjah, sebab bulan-bulan haji itu Syawal, Zulqa'dah,
dan Zulhijjah. Dan lain-lain pendapat lagi yang berbeda dengan mainstream
pendapat mayoritas umat Islam.

Pendapat-pendapat pribadi itu adakalanya tidak dilandasi oleh
profesionalitas dalam ilmu keislaman yang memadai, sehingga lebih banyak
mudaratnya daripada manfaatnya bagi kemaslahatan umat Islam

JIL dan JIMM
Pada beberapa tahun terakhir ini muncul dua kelompok pemikir yang menamakan
dirinya Jaringan Islam Liberal ( JIL ) dan Jaringan Intelektual Muda
Muhammadiyah (JIMM ). JIL kebanyakan anggotanya dari warga NU, sedangkan
anggota-anggota JIMM dari kalangan muda Muhammadiyah.

Salah seorang tokoh terkemuka JIL, Ulil Abshar Abdalla, menyatakan bahwa
dalam memahami ajaran Islam perlu menekankan pada pemahaman substansial,
nonliteral, rasional, dan kontekstual. Metode pemahamannya inilah yang
menyebabkan dia dan kawan-kawannya memilih nama kaum liberal. Mereka ingin
berpikir bebas ( liberal ) dan tidak terikat dengan fikih produk ulama
klasik (Kompas, 18/11/2002 ).

Pendapat-pendapat yang dilontarkan oleh Abdalla memang membuat banyak ulama
berdebar-debar, karena khawatir akan menyesatkan umat. Seperti pendapat
bahwa Nabi Muhammad SAW banyak kekurangannya; jilbab, hukum potong tangan,
dan qisas bukan ajaran Islam, sehingga tidak wajib ditaati; tidak ada hukum
Allah, yang ada adalah sunnatullah; semua agama adalah benar;
penemuan-penemuan ilmiah adalah juga wahyu Tuhan; agama harus dipisahkan
dari politik; dan dia lebih mendukung negara sekuler daripada negara Islam.

Banyak muncul reaksi para ulama terhadap pendapat Abdalla, baik reaksi yang
ringan maupun yang sangat keras. Di antaranya adalah reaksi dari Salahuddin
Wahid yang menyatakan bahwa ide pembaharuan Abdallah itu sudah kebablasan.
Demikian pula dalam Muktamar NU ke-31 ( 28/11 - 2/12/2004 ) di Boyolali,
muncul suara-suara yang mengusulkan agar kepengurusan PB NU dibersihkan dari
unsur-unsur JIL.

Di kalangan angkatan muda Muhammadiyah juga muncul orang-orang yang
mempunyai kecederungan berpikir liberal dan mereka ingin mengatakan
pembaharuan yang lebih maju lagi dalam pemahaman ajaran agama. Mereka
menamakan dirinya Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah ( JIMM ). Padahal
Muhammadiyah sejak berdirinya sudah membawa misi pembaharuan pemikiran Islam
( tajdid ). Untuk melaksanakan misi itu Muhammadiyah membentuk Majelis
Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, yang anggota-anggotanya terdiri
dari para pakar dalam berbagai disiplin ilmu. Kerja majelis tersebut memang
sering dinilai lamban, namun penuh kehati-hatian, sebab mengambil keputusan
dalam masalah-masalah keagamaan tidak boleh grusa-grusu, melainkan harus
berlandaskan pada paradigma yang kukuh, profesionalitas, telaah yang
mendalam dan komprehensif.

Berbagai kalangan dari pimpinan Muhammadiyah berpendapat, JIMM itu sebaiknya
jangan menggunakan label Muhammadiyah, sebab pembaharuan pemikiran menurut
Muhammadiyah harus melalui ijtihad jama'i (Majelis Tarjih ) dan dikerjakan
oleh tenaga-tenaga yang profesional. Kalau JIMM itu punya ide-ide bar, akan
lebih elegan jika mereka berhadapan langsung dengan Majelis Tarjih untuk
beradu argumentasi. Jangan pendapat-pendapat perseorangan lalu dilontarkana
ke masyarakat dengan membawa embel-embel Muhammadiyah.

Ada seorang tokoh muda liberal yang berpendapat bahwa kurban dalam rangka
Idul Adha tidak harus berupa hewan kurban yang disembelih. Baik-baik saja
diganti dengan uang. Pendapat ini dasar syar'inya mana, sebab dalam Alquran,
Surat Al-Kautsar disebutkan dengan jelas adanya penyembelihan hewan kurban.
Kalau dihubungan dengan kebutuhan zaman modern bisa saja daging itu
diawetkan dalam bentuk kornet, sehingga tahan lama dan mudah didistribusikan
ke berbagai wilayah yang memerlukan.

Bila pendapat yang semata-mata rasional itu diikuti bisa merembet ke banyak
ritual Islam lainnya, seperti dalam pelaksanaan zakat fitrah tidak perlu
repot-repot cari beras, cukup memberi uang atau pemberian materi yang lain,
yang penting menolong kaum fakir miskin. Zakat mal tidak harus dua setengah
persen, yang penting mengikuti perkembangan situasi dan kondisi masyarakat.

Kalau kita hanya berpegang pada pertimbangan rasional dan substansial, tanpa
mengindahkan dalil yang gath'i, maka pada akhirnya tidak perlu lagi kita
membenda-bedakan antara hewan kurban, zakat fitrah, zakat mal, infaq,
sedekah, dan lain-lain, yang penting setiap pribadi muslim yang mampu
hendaknya membantu kaum dhuafa. Nah, jika pola pikir yang demikian itu
diikuti, maka ajaran-ajaran ritual Islam akan sirna. (29)

-Drs H lbnu Djarir, staf pengajar IAIN Walisongo Semarang.




Read More......

25 August 2007

Lomba penulisan KDRT

Siapa tahu ada yang ingin berbagi kisah ttg KDRT teman, saudara, atau
keluarga dekat...sekalian mengasah bakat menulis...

Lomba Penulisan Kisah Nyata KDRT

Saatnya Perempuan Berbagi kekuatan!!

Hasil penelitian Unicef dan The Body Shop International menunjukkan
sedikitnya 1 dari 3 wanita di dunia mengalami tindak kekerasan baik
dalam bentuk fisik maupun mental.Di indonesia, 20.391 kasus kekerasan
terjadi pada tahun 2005 dan 16.721 (82%) diantaranya adalah kekerasan
dalam rumah tangga (KDRT).

Esensi dan The Body Shop Indonesia mengadakan KISAH (Kontes Inspirasi
dan Harapan) berupa lomba penulisan naskah dengan tema KDRT,bukan
untuk menguak
tragedi ataupun menyebar trauma, tetapi untuk menyerukan perjuangan,
cinta, dan keberanian wanita dalam menghadapi tantangan hidup yang
paling berat.
Bersama KISAH, kami ingin membagi inspirasi hidup dan harapan.

*Kriteria Lomba :
* Peserta adalah warga negara Indonesia Laki-laki maupun Perempuan
berusia
minimal 18 tahun.

Tulisan bisa berisi kisah hidup pribadi, keluarga, atau orang lain
yang memiliki nilai inspiratif.

Cerita ditulis dalam format narasi, baik dalam sudut pandang orang
pertama (aku) atau orang ketiga.

Kisah yang diceritakan adalah kisah nyata, bukan rekaan, terjemahan,
saduran, atau jiplakan.

Karya yang dikirimkan harus orisinal, belum pernah dipublikasikan,
baik di media elektronik maupun cetak, dan belum pernah
diikutsertakan dalam sayembara lain.

Naskah diketik dengan komputer sepanjang 10 รข€" 30 halaman A4, jenis
huruf
Times New Roman 11, dan spasi 1,5.

Naskah dikirimkan dalam bentuk print out dan file (dalam CD).
Sertakan biodata singkat penulis dan narasumber (jika menceritakan
tentang orang lain), alamat lengkap, nomor telepon,dan foto kopi KTP.

Tuliskan KISAH di sebelah kiri atas amplop.Kirimkan naskah ke:
Panitia KISAH Divisi ESENSI, Penerbit Erlangga
Jl. Haji Baping Raya No. 100
Ciracas, Pasar Rebo
Jakarta Timur, 13740
atau via e-mail ke: kisah@erlangga. net

Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 naskah.

Naskah yang masuk sepenuhnya menjadi milik panitia.
Naskah paling lambat diterima pada tanggal 11 Oktober 2007.
Keputusan juri mengikat, tidak dapat diganggu gugat, dan tidak
diadakan surat-menyurat. .

Hadiah :
Pemenang 1 memperoleh uang sebesar Rp. 5.000.000 + sertifikat dan
paket menarik dari the Body Shop
Pemenang 2 memperoleh uang sebesar Rp. 3.000.000 + sertifikat dan
paket menarik dari The Body Shop
Pemenang 2 memperoleh uang sebesar Rp. 2.000.000 + sertifikat dan
paket menarik dari The Body Shop
10 karya terbaik akan diterbitkan dalam bentuk buku oleh ESENSI
(Erlangga Group)

Juri :
Dewi Lestari (Penulis)
Myra Diarsi (Aktivis Perempuan)
The Body Shop Indonesia

Talkshow mengenai KDRT akan diadakan di kota-kota berikut :
Jogjakarta, 21 Agustus 2007 di Universitas Gadjah Mada (UGM)
Semarang, 22 Agustus 2007 di Universitas Diponegoro (Undip)
Bandung, 30 Agustus 2007 di Universitas Padjajaran (Unpad)
Jakarta, 5 September 2007 di Universitas Indonesia (UI)



Delete Reply


Read More......

Look Notepad++

Notepad++ is a free source code editor (and Notepad replacement), which supports several programming languages, running under the MS Windows environment.

This project, based on the Scintilla edit component (a very powerful editor component), written in C++ with pure win32 api and STL (that ensures the higher execution speed and smaller size of the program), is under the GPL Licence.

This project is mature. However, as you can see it's a one-man-project, there are still some bugs and missing features. If you have any question or suggestion about this project, please post them on the forums. As well, if you have any feature requests, you can always make the demand, but there's no guarantee that I'll implement it.

You're encouraged to translate Notepad++ (if it is not present in the Download Section) and/or to translate the Notepad++ official site into your native language.

I hope you enjoy Notepad++ as much as I enjoy coding it.


Here are the features of Notepad++ :
Syntax Highlighting and Syntax Folding
WYSIWYG
User Defined Syntax Highlighting
Auto-completion
Multi-Document
Multi-View
Regular Expression Search/Replace supported
Full Drag ‘N' Drop supported
Dynamic position of Views
File Status Auto-detection
Zoom in and zoom out
Multi-Language environment supported
Bookmark
Brace and Indent guideline Highlighting
Macro recording and playback


Read More......

20 July 2007

Pluto has new, far out peer

(CNN) -- The unexpected size of a recently discovered body beyond Pluto has scientists wondering if even larger objects lurk in the depths of the solar system.


After Pluto and its moon Charon, Varuna has been identified as the largest known body in the Kuiper Belt, a ring composed of more than 70,000 cold, dark and slow-moving objects beyond the orbit of Neptune, scientists announced Thursday.

Using telescopes on a mountain peak in Hawaii, astronomers determined that Varuna has a diameter of about 900 km (550 miles), compared to about 2,200 km (1,350 miles) for Pluto and 1,200 km (750 miles) for Charon.

Discovered in November, Varuna closes the gap between Pluto and the previously largest known Kuiper-Belt object, which is around 600 km (350 miles) in diameter, said astronomer Steve Tegler of Northern Arizona University.


"Pluto and Charon are not so unique in size now. Perhaps more Pluto-sized objects or even larger objects remain undiscovered in the outer reaches of the solar system."

Varuna could be the first of many such discoveries, predicted Tegler and a colleague in an editorial entitled 'Almost Planet X' in the May 24 issue of the Nature.

The essay accompanied an article detailing the new Varuna findings, written by lead scientist David Jewitt of the Institute for Astronomy in Hawaii and two associates.

The trio found that Varuna reflects about 7 percent of the sunlight that strikes its surface, considerably more than most identified objects in the Kuiper Belt.

"The higher than guessed albedo (reflectivity) may be due to the presence of some ice on the surface, but nothing like as much as Pluto can command," said Brian Marsden of the Harvard-Smithsonian Observatory.

Varuna is much darker than Pluto, a frosty world with a seasonal atmosphere that bounces back about 60 percent of the solar light that reaches it.

Some astronomers consider the new revelations vindication of the work of Clyde Tombaugh, who in 1930 spotted Pluto during a search for the elusive Planet X. Unconvinced that his icy find was his intended quarry, he kept looking for other sizable, distant objects.

More Kuiper Belt surprises may await astronomers after space shuttle astronauts deploy an infrared telescope facility in 2002. The instrument is expected to provide more precise measurements of objects in the distant solar system.


Read More......

18 July 2007

Good Bye My Brave Tim

JAKARTA – Korea Republic booked their place in the quarter-finals of the AFC Asian Cup, downing co-hosts Indonesia 1-0 at a sold-out Gelora Bung Karno Stadium to squeeze into the last eight.

Saudi Arabia’s comfortable 4-0 win over Bahrain coupled with the victory over the Indonesians means Pim Verbeek’s team stay alive in the competition despite only picking up four points in their three Group D games.

The Koreans take second place in the group and will now face the winners of Group C at Bukit Jalil Stadium in Kuala Lumpur on Sunday.

Kim Jung-woo scored the only goal of the game when his shot from the edge of the area was deflected past Indonesian goalkeeper Markus Rihihina in the 34th minute, after Verbeek had made wholesale changes to his starting line-up

The Dutchman dropped six of the players who lost to Bahrain in the previous game, including Middlesbrough striker Lee Dong-gook and Zenit St Petersburg midfielder Lee Ho.

Indonesia, too, made changes with Astaman Ponaryo recovering from injury to return as captain while Yandri Pitoy made way between the posts for Markus Rihihina.

Despite both sides needing a win to be sure of a place in the knockout phase, the game started cautiously with Lee Chun-soo hitting his sixth minute free kick straight at Markus while three minutes later the Koreans could have claimed the opener.

Markus did well to parry Cho Jae-jin’s shot only for Son Dae-ho to push his attempt across the face of goal.

The Indonesians always looked dangerous on the break, though, and Elie Aiboy was a constant menace in the opening 45 minutes.

Just before the half-hour mark, the Arema Malang man shot just over the bar from the edge of the area after a searing run into the Korean half by Firman Utina had the visitors panicking.

But with 11 minutes to go to the break, the Koreans went in front. Lee Chun-soo’s run across the Indonesian penalty area was followed by a pass to Kim Jung-woo and his right-foot shot was helped past Markus by the finest of deflections off defender Muhammad Ridwan.

With seconds remaining in the half, Indonesia could have pulled level but Elie’s run into the penalty area ended with a shot across the face of goal rather than Lee Woon-jae picking it out of the net.

As the game wore on, the Koreans looked the more likely to strike again, but their problems in front of goal continued.

Nine minutes after the restart Kang Min-soo should have made it 2-0 when Cho Jae-jin’s header across the six-yard box gave him the simplest of opportunities, only for his attempt to cannon off the head of Richardo Salampessy.

Fourteen minutes later Kim Jung-woo looked odds on to score his second of the night when Lee Chun-soo set him up to score 12 yards from goal, but instead the Nagoya Grampus Eight midfielder’s shot was saved by Markus.

The Koreans, however, managed to successful run down the clock, breaking the hearts of the 90,000 Indonesian fans and setting up a possible showdown with Iran in the last eight

Read More......

31 May 2007

KAMI BUKAN MUSUH NEGARA, JANGAN TEMBAK!!!

30 Mei 2007 menjadi saksi atas aksi kekerasan yang dilakukan oleh TNI terhadap rakyatnya. setidaknya 5 meninggal dunia dan salah satunya adalah balita berumur 3 tahun bernama khoirul anwar. Siapa yang salah, anarkisme yang salah. siapa yang mengajarkan? sistem yang mengajarakan. Jika dihitung mundur ini bukan kali yang pertama. Saat orde baru berkuasa TNI benar benar luar biasa kejam.


sebut saja DOM (daerah operasi militer di aceh), tragedi tanjung priyok, tragedi triksakti dll. Untuk yang terakhir hal tersebut dilakukan oleh polisi saat Polri masih menjadi sekutu TNI. Berapa darah yang harus ditumpahkan lagi?. sebenarnya rakyat kecil siapa yang membela. apakah layak sikap ini ditunjukkan pada TNI yang harusnya lebih dewasa melihat persoalan. Jika hanya karena suatu persoalan sepele memngapa harus mengangkat senjata terhadap anak negeri. bahkan pada mereka yang tidak bersenjata apapun. Ini bukan pemberontakan bung!. ini hanya masalah sengketa tanah, walhasil perebutan kepentingan yang absurd akhirnya menjadikan darah anak negeri menggelegak bagi . Sudah berapa kali TNI melakukan kesalahan fatal?, jika dihitung siapa yang bayar seragam, makanan, senjata, dam gaji mereka. bukankah rakyat yang baru sehari yang lalu mereka tembaki tersebut yang membayarnya?. Kesengajaan atau tidak, terdesak atau mendesak mereka yang bersenjata harusnya lebih hati-hati menggunakan senjatanya. Mungkin lebih baik TNI Al (marinir) diberangkatkan ke afghanistan biar agak sedikit berlatih dengan kematian, daripada harus menembaki anak negeri sendiri.

Apa yang akan pemerintah lakukan?, selalu dengan kata-kata akan diusut tuntas tapi pada kahirnya ndak tuntas-tuntas. Bahasa yang menipu dan tidak menunjukkan sikap positif sedikitpun. jika saja pemerintah kita lebih adil, dan tidak menciptakan dengan memulai kekerasan kemungkinan besar kita juga tidak akan melakukan hal yang sama. Bukankah cinta damai adalah harapan banyak orang. Semoga darah yang tertumpah itu menyuburkan semangat anak negeri untuk memperbaiki kebusukan negara ini.

Read More......

24 May 2007

MENANG ATAU PSEUDOMENANG



Hari kamis tgl 24 Mei 2007, dini hari waktu indonesia bagian barat telah menjadi saksi keperkasaan AC Milan menundukkan Steven Gerrard dan kawan-kawan. Paling tidak puluhan juta pasang mata di Indonesia ikut menjadi saksi atas kehebatan pasukan Ancheloti membuat dua gol di final liga champion di Athena. Kemenangan 2-1 bagi milan atas liverpool, bagi masing-masing pendukung pasti akan merasa senang atau sedih tinggal anda adalah pendukung mana?.


Kita ucapkan selamat pada yang menang dan jangan sedih bagi yang kalah, you never walk alone ( kamu tidak berjalan sendirian) itu ungkapan yang selalu mengiringi kemanapun dan apapun kondisi klub yang mereka banggakan Liverpool. Eropa mungkin saat itu benar-benar menjadikan momen satu tahunan ini daya tarik tersendiri, apalagi ketika pertandingan sebelum dimulai, jauh-jauh hari persiapan yang pasti menghabiskan dana jutaan poundsterling itu sudah digembar-gemborkan. Belum lagi prediksi-prediksi yang membuat penggilan bola semakin terpacu adrenalinnya. Rumah judi sepertinya tidak kehabisan ide untuk menetapkan bursa taruhan untuk kedua tim yang sudah berlaga tersebut. Luar biasa memang pengaruh dari sebuah pertandingan sepakbola. Seakan-akan stadium sepakbola itu adalak katedral yang berisi pendeta-pendeta lapangan yang mengajarkan ayat-ayat suci lewat gol-gol spektakulernya.


Tidak usah jauh-jauh ke Eropa malam pertandingan (waktu indonesia) final champion 2007 ini saja tampak terlihat meramaikan kota kecil Purwokerto dengan menggelar nonton bareng dimana sebelumnya diawali pertunjukkan band-band terkenal se-Purwokerto yang diadakan di lapangan dekat kampus UNSOED. Penonton bersorak riang ketika gol-gol tercipta seakan ada magnet yang mengharuskan mereka berteriak. Pasti mereka telah lupa saat itu sudah jam tiga pagi, begadang menjadi anjuran massal untuk pertandingan ini. Umumnya hal ini telah menjadi kebiasaan dan bisa jadi akan membudaya, perilaku-perilaku yang dipengaruhi oleh even tahunan ini sebenarnya sangat variatif dan banyak. Sebagai misal ada pengaruh model judi profesional ala bursa taruhan yang muncul di level elit Eropa, dilakukan juga oleh sebagian orang-orang yang berada dikampung-kampung dan kebetulan ikut nonton pertandingan ini.

Jarak ribuan mil ternyata tidak mempengaruhi orang untuk tidak diam meniru dengan judi. Uang taruhan pun tidak begitu besar ada yang 20.000 samapai ratusan ribu. Bahkan mahasiswa-pun ikut ambil bagian pula untuk memainkan uang haram ini.
Sebenarnya kemenangan yang dirasa para penggila bola itu semu, apalagi ketika kita orang indonesia yang berteriak kegirangan atas sebuah kemenangan klub sepakbola. Kenapa? karena jelas hal tersebut tidak memberi pengaruh positif sedikit-pun dalam hidup kita, well kalau hanya untuk hiburan mungkin itu tidak masalah akan tetapi kalau kemudian harus menjadi way of life atau persoalan hidup mati kita rasa-rasanya ada yang nggak pas. Belum lagi ada yang sampai berjudi dan kalah, kemudian membodoh-bodohkan para pemain yang kita tonton di televisi. Mungkin saat itu kita sebenarnya yang bodoh. Daya hipnotis gaya hidup seperti ini menjadi racun yang sangat susah dicari penawanarnya. Apalagi kalau kemudian iming-iming tersebut telah menciptakan masyarakat hedonis, dengan apologi menghilangkan stress. Tapi stress tidak hilang malah tambah stress karena uang habis. Hiburan yang mahal pada akhirnya. Lihat saja rakyat tetap banyak yang miskin, Eropa tambah kaya pahami berapa hak siar yang harus dibeli oleh stasiun televisi hanya untuk satu pertandingan ini?.

Selain itu sepakbola indonesia masih itu-itu saja dan tidak berkembang sampai level dunia, bahkan kita juga belum bisa melihat ada satu pemain kita yang merumput di klub elit Eropa yangmana kebetulan membawa klubnya masuk final liga champion sampai mengangkat trofi kemenangan. Kebanyakan pemain tersebut bukankah dari negara lain?, mungkin kita perlu tinjau ulang semangat kebangsaan kita. Atau kita perlu belajar pada Frederik Canoute yang dibesarkan oleh perancis tapi tidak memilih timnas perancis yang dibela akan tetapi Mali. Ada hal yang dia tetap pertahankan dalam bermain bola saat sekarang membela klub elit spanyol Sevilla. Dia enggan memakan logo sponsor yang merupakan perusahaan rumah judi dengan alasan bertentangan dengan keyakinannya. Kebetulan Canoute seorang muslim. Mengagumkan memang, apalagi prestasi sevilla semakin cemerlang akhir-akhir ini dengan menjawarai gelar Eropa lewat Piala UEFA. Tidak sedikti pengaruh Canoute disana. Bagaimana apakah kita akan larut pada pseudo kemenangan atau kita wujudkan kemenangan itu sesungguhnya dengan mengangkat trofi Piala Dunia di suatu hari nanti. Tanpa harus menjadi orang bodoh tentunya dengan menghabiskan banyak waktu dan uang untuk sesuatu yang sia-sia Kita lihat saja.



Read More......

23 May 2007

NABI MUHAMMAD SAW. (bagian 3)



Beliau adalah manusia seperti manusia yang lain dalam naluri,
fungsi fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat
dan keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan Tuhan dan
kedudukan istimewa di sisi-Nya, sedang yang lain tidak
demikian. Seperti halnya permata adalah jenis batu yang sama
jenisnya dengan batu yang di jalan, tetapi ia memiliki
keistimewaan yang tidak dimiliki oleh batu-batu lain. Dalam
bahasa tafsir Al-Quran, "Yang sama dengan manusia lain adalah
basyariyah bukan pada insaniyah." Perhatikan bunyi firman
tadi: basyarun mitslukum bukan insan mitslukum.



Atas dasar sifat-sifat yang agung dan menyeluruh itu, Allah
Swt. menjadikan beliau sebagai teladan yang baik sekaligus
sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan)

"Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi
yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari
kemudian." (QS Al-Ahzab [33]: 2l).

Keteladanan tersebut dapat dilakukan oleh setiap manusia,
karena beliau telah memiliki segala sifat terpuji yang dapat
dimiliki oleh manusia

Dalam konteks ini, Abbas Al-Aqqad, seorang pakar Muslim
kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat diklasifikasikan
ke dalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerta, dan yang tekun
beribadah.

Sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. membuktikan bahwa beliau
menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut.
Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta
pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang
bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum
berganda kepada beliau, sekali pada saat memandangnya melalui
kacamata ilmu dan kemanusiaan, dan kedua kali pada saat
memandangnya dengan kacamata iman dan agama.

Banyak fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad Saw.,
antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan) (QS Al-Fath [48]: 8), yang pada akhirnya bermuara
pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.

Di sini fungsi beliau sebagai syahid/syahid akan dijelaskan
agak mendalam.

Demikian itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu
menjadi saksi terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad Saw.)
menjadi saksi terhadap kamu ... (QS Al-Baqarah [2]: 143)

Kata syahid/syahid antara lain berarti "menyaksikan," baik
dengan pandangan mata maupun dengan pandangan hati
(pengetahuan). Ayat itu menjelaskan keberadaan umat Islam pada
posisi tengah, agar mereka tidak hanyut pada pengaruh
kebendaan, tidak pula mengantarkannya membubung tinggi ke alam
ruhani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka berada di
antara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi
saksi dalam arti patron/teladan dan skala kebenaran bagi
umat-umat yang lain, sedangkan Rasulullah Saw. yang juga
berkedudukan sebagai syahid (saksi) adalah patron dan teladan
bagi umat Islam. Kendati ada juga yang berpendapat bahwa kata
tersebut berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. akan menjadi saksi
di hari kemudian terhadap umatnya dan umat-umat terdahulu,
seperti bunyi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa' (4):
41:

Maka bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti apabila Kami
menghadirkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami
hadirkan pula engkau (hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka
(QS Al-Nisa, [4]: 41).

Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih oleh mereka yang
menelusuri jalan lurus (shirath al-mustaqim), sehingga mereka
mampu menyaksikan yang tersirat di balik yang tersurat. Mereka
yang menurut Ibnu Sina disebut "orang yang arif," mampu
memandang rahasia Tuhan yang terbentang melalu qudrat-Nya.
Tokoh dari segala saksi adalah Rasulullah Muhammad Saw. yang
secara tegas di dalam ayat ini dinyatakan "diutus untuk
menjadi syahid (saksi)."

Sikap Allah Swt. terhadap Nabi Muhammad Saw.

Dari penelusuran terhadap ayat-ayat Al-Quran ditemukan bahwa
para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. telah diseru oleh Allah
dengan nama-nama mereka; Ya Adam..., Ya Musa..., Ya Isa...,
dan sebagainya. Tetapi terhadap Nabi Muhammad Saw., Allah Swt.
sering memanggilnya dengan panggilan kemuliaan, seperti Ya
ayyuhan Nabi..., Ya ayyuhar Rasul..., atau memanggilnya dengan
panggilan-panggilan mesra, seperti Ya ayyuhal muddatstsir,
atau ya ayyuhal muzzammil (wahai orang yang berselimut). Kalau
pun ada ayat yang menyebut namanya, nama tersebut dibarengi
dengan gelar kehormatan. Perhatikan firman-Nya dalam surat
Ali-'Imran (3): 144, Al-Ahzab (33): 40, Al-Fat-h (48): 29, dan
Al-Shaff (61): 6.

Dalam konteks ini dapat dimengerti mengapa Al-Quran berpesan
kepada kaum mukmin.

"Janganlah kamu menjadikan panggilan kepada Rasul di antara
kamu, seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang
lain... (QS Al-Nur [24]: 63).

Sikap Allah kepada Rasul Saw. dapat juga dilihat dengan
membandingkan sikap-Nya terhadap Musa a.s.

Nabi Musa a.s. bermohon agar Allah menganugerahkan kepadanya
kelapangan dada, serta memohon agar Allah memudahkan segala
persoalannya.

"Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah untukku
urusanku (QS Thaha [20]: 25-26).

Sedangkan Nabi Muhammad Saw. memperoleh anugerah kelapangan
dada tanpa mengajukan permohonan. Perhatikan firman Allah
dalam surat Alam Nasyrah, Bukankah Kami telah melapangkan
dadamu? (QS Alam Nasyrah [94]: 1).

Dapat diambil kesimpulan bahwa yang diberi tanpa bermohon
tentunya lebih dicintai daripada yang bermohon, baik
permohonannya dikabulkan, lebih-lebih yang tidak.

Permohonan Nabi Musa a.s. adalah agar urusannya dipermudah,
sedangkan Nabi Muhammad Saw. bukan sekadar urusan yang
dimudahkan Tuhan, melainkan beliau sendiri yang dianugerahi
kemudahan. Sehingga betapapun sulitnya persoalan yang dihadapi
-dengan pertolongan Allah-beliau akan mampu menyelesaikannya.
Mengapa demikian? Karena Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad
dalam surat Al-A'la (87): 8:

"Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah."

Mungkin saja urusan telah mudah, namun seseorang, karena satu
dan lain sebab-tidak mampu menghadapinya. Tetapi jika yang
bersangkutan telah memperoleh kemudahan, walaupun sulit urusan
tetap akan terselesaikan.

Keistimewaan yang dimiliki beliau tidak berhenti di sana saja.
Juga dengan keistimewaan kedua, yaitu "jalan yang beliau
tempuh selalu dimudahkan Tuhan" sebagaimana tersurat dalam
firman Allah, "Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah."
(QS Al-A'la [87]: 8).

Dari sini jelas bahwa apa yang diperoleh oleh Nabi Muhammad
Saw. melebihi apa yang diperoleh oleh Nabi Musa a.s., karena
beliau tanpa bermohon pun memperoleh kemudahan berganda,
sedangkan Nabi Musa a.s. baru memperoleh anugerah "kemudahan
urusan" setelah mengajukan permohonannya.

Itu bukan berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. dimanjakan oleh
Allah, sehingga beliau tidak akan ditegur apabila melakukan
sesuatu yang kurang wajar sebagai manusia pilihan.

Dari Al-Quran ditemukan sekian banyak teguran-teguran Allah
kepada beliau, dari yang sangat tegas hingga yang lemah lembut

Perhatikan teguran firman Allah ketika beliau memberi izin
kepada beberapa orang munafik untuk tidak ikut berperang.

"Allah telah memaafkan kamu. Mengapa engkau mengizinkan
mereka? (Seharusnya izin itu engkau berikan) setelah terbukti
bagimu siapa yang berbohong dalam alasannya, dan siapa pula
yang berkata benar (QS Al-Tawbah [9]: 43)

Dalam ayat tersebut Allah mendahulukan penegasan bahwa beliau
telah dimaafkan, baru kemudian disebutkan "kekeliruannya."

Teguran keras baru akan diberikan kepada beliau terhadap
ucapan yang mengesankan bahwa beliau mengetahui secara pasti
orang yang diampuni Allah, dan yang akan disiksa-Nya, maupun
ketika beliau merasa dapat menetapkan siapa yang berhak
disiksa.

"Engkau tidak mempunyai sedikit urusan pun. (Apakah) Allah
menerima tobat mereka atau menyiksa mereka (QS Ali 'Imran [3]:
128).

Perhatikan teguran Allah dalam surat 'Abasa ayat 1-2 kepada
Nabi Muhammad Saw., yang tidak mau melayani orang buta yang
datang meminta untuk belajar pada saat Nabi Saw. sedang
melakukan pembicaraan dengan tokoh-tokoh kaum musyrik di
Makkah

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah
datang seorang buta kepadanya..."

Teguran ini dikemukakan dengan rangkaian sepuluh ayat, dan
diakhiri dengan:

"Sekali-kali jangan (demikian). Sesungguhnya ajaran-ajaran
Allah adalah suatu peringatan" (QS 'Abasa [80]: 11).

Nabi berpaling dan sekadar bermuka masam ketika seseorang
mengganggu konsentrasi dan pembicaraan serius pada saat rapat;
hakikatnya dapat dinilai sudah sangat baik bila dikerjakan
oleh manusia biasa. Namun karena Muhammad Saw. adalah manusia
pilihan, sikap dernikian itu dinilai kurang tepat, yang dalam
istilah Al-Quran disebut zanb (dosa).

Dalam hal ini ulama memperkenalkan kaidah: Hasanat al-abrar,
sayyiat al-muqarrabin, yang berarti "kebajikan-kebajikan yang
dilakukan oleh orang-orang baik, (dapat dinilai sebagai) dosa
(bila diperbuat oleh) orang-orang yang dekat kepada Tuhan."

--oo0oo--

Disadari sepenuhnya bahwa uraian tentang Nabi Muhammad Saw.
amat panjang, yang dapat diperoleh secara tersirat maupun
tersurat dalam Al-Quran, maupun dari sunnah, riwayat, dan
pandangan para pakar. Tidak mungkin seseorang dapat menjangkau
dan menguraikan seluruhnya, karena itu sungguh tepat
kesimpulan yang diberikan oleh penyair Al-Bushiri,

"Batas pengetahuan tentang beliau, hanya bahwa beliau adalah
seorang manusia, dan bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk
Allah seluruhnya."

Allahumma shalli wa sallim 'alaih. []


--------------------------------------------------------------------------------WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net



Read More......

NABI MUHAMMAD SAW. (bagian 2)



Kegelisahan itu bertambah besar pada saat wahyu yang beliau
nanti-nantikan tidak kunjung datang, hingga menurut beberapa
riwayat beliau sedemikian gelisah, sampai-sampai konon beliau
hampir saja mencelakakan dirinya. Rupanya Allah Swt. bermaksud
menjadikan beliau lebih merindukan lagi "sang kekasih dan
firman-firman-Nya" agar semakin mantap cinta beliau
kepada-Nya.


Surat Adh-Dhuha menyatakan sekelumit hal itu, sekaligus
sekilas kedudukan beliau di sisi Allah. Surat ini turun
berkenaan dengan kegelisahan Nabi Muhammad Saw. karena
ketidakhadiran Malaikat Jibril membawa wahyu setelah sekian
kali sebelumnya datang.

"Demi adh-dhuha, dan malam ketika hening. Tuhanmu tidak
meninggalkan kamu dan tidak pula membenci-(mu dan siapa pun).

Mengapa adh-dhuha -yakni "matahari ketika naik
sepenggalah"-yang dipilih berkaitan dengan wahyu-wahyu yang
diterima oleh Nabi Saw., atau apakah adh-dhuha ada kaitannya
dengan ketidakhadiran wahyu-wahyu Ilahi?

Ketika matahari naik sepenggalah, cahayanya memancar menerangi
seluruh penjuru. Cahayanya tidak terlalu terik, sehingga tidak
menyebabkan gangguan sedikit pun, bahkan panasnya memberikan
kesegaran, kenyamanan, dan kesehatan.

Di sini Allah Swt. melambangkan kehadiran wahyu selama ini
sebagai kehadiran cahaya matahari yang sinarnya demikian
jelas, menyegarkan, dan menyenangkan. Sedangkan ketidakhadiran
wahyu dinyatakan dengan kalimat, "Demi malam ketika hening."

Dari kedua hal yang bertolak belakang itu, Allah menafikan
dugaan atau tanggapan yang menyatakan bahwa Muhammad Saw.
telah ditinggalkan oleh Tuhannya, atau bahkan Tuhan telah
membencinya. Kehadiran malam tidak menjadikan seseorang boleh
berkata bahwa matahari tidak akan terbit lagi, karena
kenyataan sehari-hari membuktikan kekeliruan ucapan seperti
itu. Nah, ketidakhadiran wahyu beberapa saat tidak dapat
dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa wahyu tidak akan hadir
lagi atau Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.

Ketidakhadiran antara lain menjadi isyarat kepada Nabi
Muhammad Saw. untuk beristirahat, karena "malam" dijadikan
Tuhan sebagai waktu "beristirahat."

Dapat juga dikatakan bahwa ketidakhadiran wahyu justru pada
saat Nabi Muhammad menanti-nantikannya, membuktikan bahwa
wahyu adalah wewenang Tuhan sendiri. Walaupun keinginan Nabi
Saw. meluap-luap menantikan kehadirannya, namun jika Tuhan
tidak menghendaki, wahyu tidak akan datang. Ini membuktikan
bahwa wahyu bukan merupakan hasil renungan atau bisikan jiwa.

Kenabian Muhammad Saw. bukan merupakan hal yang baru bagi umat
manusia. Nabi Muhammad secara tegas diperintahkan untuk
menyatakan hal itu,

"Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara
rasul-rasul. Aku tidak mengetahui yang diperbuat terhadapku,
tidak juga terhadapmu. Aku tidak lain hanya mengikuti yang
diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain seorang pemberi
peringatan yang menjelaskan.'" (QS Al-Ahqaf [46]: 9)

Namun demikian' kenabian Muhammad Saw. berbeda dengan kenabian
utusan Tuhan yang lain. Sebelum beliau, para Nabi dan Rasul
diutus untuk masyarakat dan waktu tertentu, tetapi Nabi
Muhammad Saw. diutus untuk seluruh manusia di setiap waktu dan
tempat,

"Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua'" (QS
Al-A'raf [7]: 158)

Ada sementara orientalis yang menduga bahwa pada mulanya Nabi
Muhammad Saw. hanya bermaksud mengajarkan agamanya kepada
orang-orang Arab, tetapi setelah beliau berhasil di Madinah,
beliau memperluas dakwahnya untuk seluruh manusia.

Pendapat ini sungguh keliru, karena sejak di Makkah beliau
telah menegaskan bahwa beliau diutus untuk seluruh manusia.

"Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia!
Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kamu semua.'" (QS
Al-A'raf [7]: 158).

Ayat ini turun ketika Nabi Saw. sedang berada di Makkah,
bahkan menurut sementara ulama, semua ayat Al-Quran yang
dimulai dengan panggilan "Wahai seluruh manusia," semuanya
turun di Makkah kecuali beberapa ayat.

Perbedaan yang lain adalah para nabi sebelum beliau selalu
mengaitkan kenabian dengan hal-hal yang bersifat
suprarasional, baik berbentuk sihir, pengetahuan gaib,
mimpi-mimpi, dan lain-lain.

Isa a.s. misalnya bersabda,

"Sesungguhnya Aku telah datang kepadamu dengan membawa bukti
(mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat burung untuk kamu
dari tanah, kemudian aku meniupnya sehingga ia menjadi burung
dengan seizin Allah, dan aku menyembuhkan orang yang buta
sejak lahir, dan orang yang berpenyakit sopak (lepra), dan aku
menghidupkan orang mati dengan seizin Allah, dan aku kabarkan
kepadamu yang kamu makan dan yang kamu simpan di rumahmu.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah suatu tanda (mukjizat
tentang kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu
sungguh-sungguh beriman." (QS Ali 'Imran [3]: 49)

Dalam Perjanjian Baru, Isa a.s. juga menyatakan, "Jangan
percaya padaku, jika aku tidak mengerjakan pekerjaan Bapak
..."

Demikian halnya Isa a.s. dan para nabi sebelumnya. Oleh karena
itu, ketika masyarakat Arab Quraisy meminta bukti-bukti yang
bersifat suprarasional, Nabi Muhammad Saw. diperintahkan untuk
menyampaikan kalimat-kalimat berikut:

"Katakanlah, 'Sesungguhnya bukti-bukti itu bersumber dari
Allah, sedang aku hanya pembawa peringatan yang menjelaskan.'"
(QS Al-'Ankabut [29]: 50)

Dr. Nazme Luke, seorang pendeta Mesir, berkomentar bahwa
menghidupkan orang mati, mengembalikan penglihatan orang buta,
dan lain-lain adalah hal-hal yang sangat mengagumkan, tetapi
tidak berarti apa-apa jika digunakan untuk membuktikan bahwa
2+2 = 5.

Masyarakat pada masa Isa a.s. membutuhkan bukti-bukti yang
bersifat suprarasional, karena mereka belum mencapai tingkat
kedewasan yang memadai. Hal ini, tulisnya, sama dengan
membujuk anak kecil untuk makan, padahal jika telah dewasa, ia
akan makan tanpa dibujuk.

Memang Nabi Muhammad Saw. tidak mengandalkan hal-hal yang
bersifat suprarasional sebagai bukti kebenaran ajarannya.

Bukti kebenaran kenabian dan kerasulannya adalah Al-Quran dan
diri beliau sendiri yang ummi (tidak pandai membaca dan
menulis). Para pakar bersepakat dengan menggunakan berbagai
tolok ukur untuk mengakui beliau sebagai manusia teragung yang
pernah dikenal oleh sejarah kemanusiaan

Demikianlah kesimpulan Thomas Carlyle dalam bukunya On Heroes,
Hero, Worship and the Heros in History dengan menggunakan
tolok ukur kepahlawanan. Demikian pula Will Durant dalam The
Story of Civilization in the World dengan tolok ukur hasil
karya, Marcus Dodds dalam Muhammad, Buddha, and Christ, dengan
tolok ukur keberanian moral, Nazme Luke dalam Muhammad
Al-Rasul wa Al-Risalah dengan tolok ukur metode pembuktian
ajaran, serta Michael Hart dalam bukunya tentang seratus tokoh
dunia yang paling berpengaruh dalam sejarah, dengan tolok ukur
pengaruh serta sederetan pakar lainnya.

"Mustahil bagi siapa pun yang mempelajari kehidupan dan
karakter Muhammad (Saw.), hanya mempunyai perasaan hormat saja
terhadap Nabi mulia itu. Ia akan melampauinya sehingga
meyakini bahwa beliau adalah salah seorang Nabi terbesar dari
sang Pencipta," demikian Annie Besant menulis dalam The Life
and Teachings of Muhammad.

Dalam konteks ini Al-Quran surat Alam Nasyrah ayat 4
menyatakan,

"Sesungguhnya Kami pasti akan meninggikan namamu."

Dalam ayat lain dinyatakan:

"Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kamu bukti yang
sangat jelas dan Tuhanmu (yakni Muhammad Saw.), dan Kami telah
(pula) menurunkan cahaya yang terang benderang (Al-Quran)" (QS
Al-Nisa' [4]: 174).

Akhlak dan Fungsi Kenabian Muhammad Saw.

Al-Quran mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad Saw.
memiliki akhlak yang sangat agung. Bahkan dapat dikatakan
bahwa konsideran pengangkatan beliau sebagai nabi adalah
keluhuran budi pekertinya. Hal ini dipahami dari wahyu ketiga
yang antara lain menyatakan bahwa:

"Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang
agung" (QS Al-Qalam [68]: 4).

Kata "di atas" tentu mempunyai makna yang sangat dalam,
melebihi kata lain, misalnya, pada tahap/dalam keadaan akhlak
mulia

Seperti dikemukakan di atas, Al-Quran surat Al-An'am ayat 90
menyebutkan dalam rangkaian ayat-ayatnya 18 nama Nabi/Rasul.
Setelah kedelapan belas nama disebut, Allah berpesan kepada
Nabi Muhammad Saw.,

"Mereka itulah yang telah memperoleh petunjuk dari Allah, maka
hendaknya kamu meneladani petunjuk yang mereka peroleh."

Ulama-ulama tafsir menyatakan bahwa Nabi Saw. pasti
memperhatikan benar pesan ini. Hal itu terbukti antara lain,
ketika salah seorang pengikutnya mengecam kebijaksanaan beliau
saat membagi harta rampasan perang, beliau menahan amarahnya
dan menyabarkan diri dengan berkata,

"Semoga Allah merahmati Musa a s. Dia telah diganggu melebihi
gangguan yang kualami ini, dan dia bersabar (maka aku lebih
wajar bersabar daripada Musa a s.)."

Karena itu pula sebagian ulama tafsir menyimpulkan, bahwa
pastilah Nabi Muhammad Saw. telah meneladani sifat-sifat
terpuji para nabi sebelum beliau

Nabi Nuh a.s. dikenal sebagai seorang yang gigih dan tabah
dalam berdakwah. Nabi Ibrahim a.s. dikenal sebagai seorang
yang amat pemurah, serta amat tekun bermujahadah mendekatkan
diri kepada Allah. Nabi Daud a.s. dikenal sebagai nabi yang
amat menonjolkan rasa syukur serta penghargaannya terhadap
nikmat Allah. Nabi Zakaria a.s., Yahya a.s., dan Isa a.s.,
adalah nabi-nabi yang berupaya menghindari kenikmatan dunia
demi mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Nabi Yusuf a.s. terkenal gagah, dan amat bersyukur dalam
nikmat dan bersabar menahan cobaan. Nabi Yunus a. s. diketahui
sebagai nabi yang amat khusyuk ketika berdoa, Nabi Musa
terbukti sebagai nabi yang berani dan memiliki ketegasan, Nabi
Harun a.s. sebaliknya, adalah nabi yang penuh dengan
kelemahlembutan. Demikian seterusnya, dan Nabi Muhammad Saw.
meneladani semua keistimewaan mereka itu.

Ada beberapa sifat Nabi Muhammad Saw. yang ditekankan oleh
Al-Quran, antara lain,

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu (umat manusia),
serta sangat menginginkan kebaikan untuk kamu semua, lagi amat
tinggi belas kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang
mukmin" (QS Al-Tawbah [9]: 128).

Begitu besar perhatiannya kepada umat manusia, sehingga
hampir-hampir saja ia mencelakakan diri demi mengajak mereka
beriman (baca QS Syu'ara [26]: 3). Begitu luas rahmat dan
kasih sayang yang dibawanya, sehingga menyentuh manusia,
binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk tak bernyawa.

Sebelum Eropa memperkenalkan Organisasi Pencinta Binatang,
Nabi Muhammad Saw. telah mengajarkan,

"Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap
binatang-binatang, kendarailah dan makanlah dengan baik."

"Seorang wanita terjerumus ke dalam neraka karena seekor
kucing yang dikurungnya."

"Seorang wanita yang bergelimang dosa diampuni Tuhan karena
memberi minum seekor anjing yang kehausan."

Rahmat dan kasih sayang yang dicurahkannya sampai pula pada
benda-benda tak bernyawa. Susu, gelas, cermin, tikar, perisai,
pedang, dan sebagainya, semuanya beliau beri nama, seakan-akan
benda-benda tak bernyawa itu mempunyai kepribadian yang
membutuhkan uluran tangan, rahmat, kasih sayang, dan
persahabatan.

Diakui bahwa Muhammad Saw. diperintahkan Allah untuk
menegaskan bahwa,

"Aku tidak lain kecuali manusia seperti kamu, (tetapi aku)
diberi wahyu ..." (QS Al-Kahf [18]: 110).
(bersambung 3/3)


--------------------------------------------------------------------------------WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net




Read More......

NABI MUHAMMAD SAW. (bagian 1)



Disadari atau tidak, wujud Tuhan pasti dirasakan oleh jiwa
manusia baik redup atau benderang. Manusia menyadari bahwa
suatu ketika dirinya akan mati. Kesadaran ini mengantarkannya
kepada pertanyaan tentang apa yang akan terjadi sesudah
kematian, bahkan menyebabkan manusia berusaha memperoleh
kedamaian dan keselamatan di negeri yang tak dikenal itu.

Wujud Tuhan yang dirasakan, serta hal-ihwal kematian,
merupakan dua dari sekian banyak faktor pendorong manusia
untuk berhubungan dengan Tuhan dan memperoleh informasi yang
pasti. Sayangnya tidak semua manusia mampu melakukan hal itu.
Namun, kemurahan Allah menyebabkan-Nya memilih manusia
tertentu untuk menyampaikan pesan-pesan Allah, baik untuk
periode dan masyarakat tertentu maupun untuk seluruh manusia
di setiap waktu dan tempat. Mereka yang mendapat tugas itulah
yang dinamai Nabi (penyampai berita) dan Rasul (Utusan Tuhan).

Jumlah mereka secara pasti tidak diketahui. Al-Quran hanya
menginforrnasikan bahwa,

"Tidak satu umat (kelompok masyarakat) pun kecuali telah
pernah diutus kepadanya seorang pembawa peringatan" (QS Fathir
[35]: 24).

Al-Quran juga menyatakan kepada Nabinya bahwa,

"Kami telah mengutus nabi-nabi sebelum kamu, di antara mereka
ada yang telah kami sampaikan kisahnya, dan ada pula yang
tidak Kami sampaikan kepadamu" (QS Al-Mu'min [40]: 78)

Al-Quran menyebutkan secara tegas nama dua puluh lima
Nabi/Rasul; delapan belas di antaranya disebutkan dalam
Al-Quran surat Al-An'am (6): 83-86, sisanya didapatkan dari
berbagai ayat.

Nabi Muhammad Saw. seperti dinyatakan Al-Quran surat Al-A'raf
(7): 158 -diutus kepada seluruh manusia, dan beliau merupakan
khataman nabiyyin (penutup para nabi) (QS Al-Ahzab [33]: 40).

Masa Prakelahiran

Al-Quran menegaskan bahwa para nabi telah pernah diangkat
janjinya untuk percaya dan membela Nabi Muhammad Saw.

"Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dan para Nabi,
'Sungguh apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan
hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) yang
membenarkan kamu, niscaya kamu sungguh-sungguh akan beriman
kepadanya dan menolongnya.' Allah berfirman, 'Apakah kamu
mengakui dan menerima perjanjian-Ku yang demikian itu?' Mereka
menjawab, 'Kami mengakui.'" (QS Ali'Imran [3]: 81)

Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad Saw. bersabda,

"Demi (Allah) yang jiwaku berada pada genggaman-Nya,
seandainya Musa a.s. hidup, dia tidak dapat mengelak dan
mengikutiku" (HR Imam Ahmad)

Tidak jelas kapan dan bagaimana perjanjian yang disinggung
ayat tersebut. Setidaknya, ia mengisyaratkan bahwa Allah Swt.
telah merencanakan sesuatu untuk Nabi Muhammad Saw., jauh
sebelum kelahiran beliau. Karena itu pula sementara pakar
menyatakan bahwa kematian ayah beliau sebelum kelahiran,
kepergiannya ke pedesaan menjauhi ibunya, serta
ketidakmampuannya membaca dan menulis merupakan strategi yang
dipersiapkan Tuhan kepada beliau untuk dijadikan utusan-Nya
kepada seluruh umat manusia kelak.

Bahkan ulama lain meyakini bahwa pemilihan hal-hal tertentu
berkaitan dengan beliau bukanlah kebetulan. Misalnya bulan
lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan Rabi'ul Awal (musim
bunga). Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya Abdullah
(hamba Allah) , ibunya Aminah (yang memberi rasa aman),
kakeknya yang bergelar Abdul Muththalib bernama Syaibah (orang
tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya melahirkan
bernama Asy-Syifa' (yang sempurna dan sehat), serta yang
menyusukannya adalah Halimah As-Sa'diyah (yang lapang dada dan
mujur). Semuanya mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan
Nabi Muhammad Saw. Makna nama-nama tersebut memiliki kaitan
yang erat dengan kepribadian Nabi Muhammad Saw.

Al-Quran surat Al-A'raf (7): 157 juga menginformasikan bahwa
Nabi Muhammad Saw. pada hakikatnya dikenal oleh orang-orang
Yahudi dan Nasrani. Hal ini antara lain disebabkan mereka
mendapatkan (nama)-nya tertulis di dalam Taurat dan Injil (QS
Al-A'raf [7]: 157).

Menurut pakar agama Islam, yang ditegaskan oleh Al-Quran itu,
dapat terbaca antara lain dalam Pertanjian Lama, Kitab Ulangan
33 ayat 2:

"... bahwa Tuhan telah datang dari Torsina, dan telah terbit
untuk mereka itu dari Seir, kelihatanlah ia dengan gemerlapan
cahayanya dari gunung Paran."

Pemahaman mereka berdasarkan analisis berikut: "Gunung Paran"
menurut Kitab Pertanjian Lama, Kejadian ayat 21, adalah tempat
putra Ibrahim -yakni Nabi Ismail- bersama ibunya Hajar
memperoleh air (Zam-Zam). Ini berarti bahwa tempat tersebut
adalah Makkah, dan dengan demikian yang tercantum dalam Kitab
Ulangan di atas mengisyaratkan tiga tempat terpancarnya cahaya
wahyu Ilahi: Thur Sina tempat Nabi Musa a.s., Seir tempat Nabi
Isa a.s. , dan Makkah tempat Nabi Muhammad Saw. Sejarah
membuktikan bahwa beliau satu-satunya Nabi dari Makkah.

Karena itu pula wajar jika Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 146
menyatakan bahkan mereka itu mengenalnya (Muhammad Saw.),
sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka, bahkan salah
seorang penganut agama Yahudi yang kemudian masuk Islam, yaitu
Abdullah bin Salam pernah berkata, "Kami lebih mengenal dan
lebih yakin tentang kenabian Muhammad Saw. daripada pengenalan
dan keyakinan kami tentang anak-anak kami. Siapa tahu pasangan
kami menyeleweng."

Masa Prakenabian

Ada beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang Nabi
Muhammad Saw. sebelum kenabian beliau. Antara lain,

"Bukankah Dia (Tuhan) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu
Dia melindungimu, dan Dia mendapatimu bimbang, lalu Dia
memberi petunjuk kepadamu, dan Dia mendapatimu dalam keadaan
kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan?" (QS Al-Dhuha [93]:
6-8).

Beliau yatim sejak di dalam kandungan, kemudian dipelihara dan
dilindungi oleh paman dan kakeknya. Beliau hidup di dalam
keresahan dan kebimbangan melihat sikap masyarakatnya, lalu
Allah memberinya petunjuk, dan mengangkatnya sebagai Nabi dan
Rasul. Beliau hidup miskin karena ayahnya tidak meninggalkan
warisan untuknya, kecuali beberapa ekor kambing dan harta
lainnya yang tidak berarti. Tetapi Allah memberinya kecukupan,
khususnya menjelang dan saat hidup berumah tangga dengan
istrinya, Khadijah a.s.

Ayat lain yang oleh ulama dianggap berbicara tentang Nabi
Muhammad Saw. pada masa kanak-kanaknya, adalah surat Alam
Nasyrah ayat pertama:

"Bukankah Kami (Tuhan) telah melapangkan dada untukmu?"

Sebagian ulama mengartikan kata nasyrah dengan
"memotong/membedah." Memang, bila dikaitkan dengan sesuatu
yang bersifat materi, artinya demikian. Apabila dikaitkan
dengan sesuatu yang bersifat nonmateri, kata itu mengandung
arti membuka, memberi pemahaman, menganugerahkan ketenangan
dan semaknanya.

Yang mengaitkan dengan hal-hal materi berpendapat bahwa ayat
ini berbicara tentang "pembedahan" yang pernah dilakukan oleh
para malaikat terhadap Nabi Muhammad Saw. kala beliau remaja.
Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh mufasir An
-Naisaburi.

Tetapi sepanjang penelitian penulis kata tersebut dengan
berbagai bentuknya terulang sebanyak 5 kali, dan tidak satu
pun yang digunakan dengan arti harfiah, apalagi bermakna
pembedahan. Akan lebih jelas lagi jika hal itu disejajarkan
dengan ayat yang berbicara tentang doa Nabi Musa a.s. di dalam
Al-Quran.

"Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku
urusanku dan lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka
mengerti perkataanku" (QS Thaha [20]: 25-28)

Selanjutnya Al-Quran menegaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. tidak
pernah membaca satu kitab atau menulis satu kata sebelum
datangnya wahyu Al-Quran.

"Engkau tidak pernah membaca satu kitab pun sebelumnya
(Al-Quran), tidak juga menulis satu tulisan dengan tanganmu,
(andai kata kamu pernah membaca dan menulis) pasti akan
benar-benar ragulah orang yang mengingkari-(mu)" (QS
Al-'Ankabut [29]: 48).

Ayat ini secara pasti menyatakan bahwa beliau Saw. adalah
orang yang tidak pandai membaca dan menulis. Banyak ulama yang
memahami bahwa kendatipun kemudian Nabi Saw. menganjurkan
umatnya belajar membaca dan menulis, namun beliau sendiri
tidak melakukannya, karena Allah Swt. ingin menjadikan beliau
sebagai bukti bahwa informasi yang diperolehnya benar-benar
bukan bersumber dari manusia, melainkan dari Allah Swt.

Ada juga ulama yang memahami bahwa ketidakmampuan beliau
membaca hanya terbatas sampai sebelum terbukti kebenaran
ajaran Islam. Setelah kebenaran Islam terbukti -setelah hijrah
ke Madinah- beliau telah pandai membaca. Menurut pendukungnya
ide ini dikuatkan antara lain oleh kata "sebelumnya" yang
terdapat pada ayat di atas.

Memang, kata ummi hanya ditemukan dua kali dalam Al-Quran (QS
Al-A'raf [7] 157 dan 158) , dan keduanya menjadi sifat Nabi
Muhammad Saw. Memang kedua ayat itu turun di Makkah, meskipun
ada juga ayat lain yang turun di Madinah menyatakan,

"Dia (Allah) yang mengutus kepada masyarakat ummiyyin (buta
huruf), seorang Rasul di antara mereka" (QS Al-Jum'ah [62]: 2)

Di sisi lain, harus disadari bahwa masyarakat beliau ketika
itu menganggap kemampuan menulis sebagai bukti kelemahan
seseorang.

Pada masa itu sarana tulis-menulis amat langka, sehingga
masyarakat amat mengandalkan hafalan. Seseorang yang menulis
dianggap tidak memiliki kemampuan menghafal, dan ini merupakan
kekurangan. Penyair Zurrummah pernah ditemukan sedang menulis,
dan ketika ia sadar bahwa ada orang yang melihatnya, ia
bermohon,

"Jangan beri tahu siapa pun, karena ini (kemampuan menulis)
bagi kami adalah aib."

Memang, nilai-nilai dalam masyarakat berubah, sehingga apa
yang dianggap baik pada hari ini, boleh jadi sebelumnya
dinilai buruk. Pada masa kini kemampuan menghafal tidak
sepenting masa lalu, karena sarana tulis-menulis dengan mudah
diperoleh.

Masa Kenabian

Pada usia 40 tahun, yang disebut oleh Al-Quran surat Al-Ahqaf
ayat 15 sebagai usia kesempurnaan, Muhammad Saw. diangkat
menjadi Nabi. Ditandai dengan turunnya wahyu pertama Iqra'
bismi Rabbik.

Sebelumnya beliau tidak pernah menduga akan mendapat tugas dan
kedudukan yang demikian terhormat. Karena itu ditemukan
ayat-ayat Al-Quran yang menguraikan sikap beliau terhadap
wahyu dan memberi kesan bahwa pada mulanya beliau sendiri
"ragu" dan gelisah mengenai hal yang dialaminya. QS Yunus
(10): 94 mengisyaratkan bahwa,

"Kalau engkau ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepadamu,
maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab Suci
sebelum kamu (QS Yunus [10]: 94).
(bersambung 2/3)


--------------------------------------------------------------------------------WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net




Read More......
<< Kembali ke atas