(CNN) -- The unexpected size of a recently discovered body beyond Pluto has scientists wondering if even larger objects lurk in the depths of the solar system.
After Pluto and its moon Charon, Varuna has been identified as the largest known body in the Kuiper Belt, a ring composed of more than 70,000 cold, dark and slow-moving objects beyond the orbit of Neptune, scientists announced Thursday.
Using telescopes on a mountain peak in Hawaii, astronomers determined that Varuna has a diameter of about 900 km (550 miles), compared to about 2,200 km (1,350 miles) for Pluto and 1,200 km (750 miles) for Charon.
Discovered in November, Varuna closes the gap between Pluto and the previously largest known Kuiper-Belt object, which is around 600 km (350 miles) in diameter, said astronomer Steve Tegler of Northern Arizona University.
"Pluto and Charon are not so unique in size now. Perhaps more Pluto-sized objects or even larger objects remain undiscovered in the outer reaches of the solar system."
Varuna could be the first of many such discoveries, predicted Tegler and a colleague in an editorial entitled 'Almost Planet X' in the May 24 issue of the Nature.
The essay accompanied an article detailing the new Varuna findings, written by lead scientist David Jewitt of the Institute for Astronomy in Hawaii and two associates.
The trio found that Varuna reflects about 7 percent of the sunlight that strikes its surface, considerably more than most identified objects in the Kuiper Belt.
"The higher than guessed albedo (reflectivity) may be due to the presence of some ice on the surface, but nothing like as much as Pluto can command," said Brian Marsden of the Harvard-Smithsonian Observatory.
Varuna is much darker than Pluto, a frosty world with a seasonal atmosphere that bounces back about 60 percent of the solar light that reaches it.
Some astronomers consider the new revelations vindication of the work of Clyde Tombaugh, who in 1930 spotted Pluto during a search for the elusive Planet X. Unconvinced that his icy find was his intended quarry, he kept looking for other sizable, distant objects.
More Kuiper Belt surprises may await astronomers after space shuttle astronauts deploy an infrared telescope facility in 2002. The instrument is expected to provide more precise measurements of objects in the distant solar system.
20 July 2007
Pluto has new, far out peer
Posted by
Muhammad Akhirudin Kurnianto
at
12:30 AM
0
comments
18 July 2007
Good Bye My Brave Tim
JAKARTA – Korea Republic booked their place in the quarter-finals of the AFC Asian Cup, downing co-hosts Indonesia 1-0 at a sold-out Gelora Bung Karno Stadium to squeeze into the last eight.
Saudi Arabia’s comfortable 4-0 win over Bahrain coupled with the victory over the Indonesians means Pim Verbeek’s team stay alive in the competition despite only picking up four points in their three Group D games.
The Koreans take second place in the group and will now face the winners of Group C at Bukit Jalil Stadium in Kuala Lumpur on Sunday.
Kim Jung-woo scored the only goal of the game when his shot from the edge of the area was deflected past Indonesian goalkeeper Markus Rihihina in the 34th minute, after Verbeek had made wholesale changes to his starting line-up
The Dutchman dropped six of the players who lost to Bahrain in the previous game, including Middlesbrough striker Lee Dong-gook and Zenit St Petersburg midfielder Lee Ho.
Indonesia, too, made changes with Astaman Ponaryo recovering from injury to return as captain while Yandri Pitoy made way between the posts for Markus Rihihina.
Despite both sides needing a win to be sure of a place in the knockout phase, the game started cautiously with Lee Chun-soo hitting his sixth minute free kick straight at Markus while three minutes later the Koreans could have claimed the opener.
Markus did well to parry Cho Jae-jin’s shot only for Son Dae-ho to push his attempt across the face of goal.
The Indonesians always looked dangerous on the break, though, and Elie Aiboy was a constant menace in the opening 45 minutes.
Just before the half-hour mark, the Arema Malang man shot just over the bar from the edge of the area after a searing run into the Korean half by Firman Utina had the visitors panicking.
But with 11 minutes to go to the break, the Koreans went in front. Lee Chun-soo’s run across the Indonesian penalty area was followed by a pass to Kim Jung-woo and his right-foot shot was helped past Markus by the finest of deflections off defender Muhammad Ridwan.
With seconds remaining in the half, Indonesia could have pulled level but Elie’s run into the penalty area ended with a shot across the face of goal rather than Lee Woon-jae picking it out of the net.
As the game wore on, the Koreans looked the more likely to strike again, but their problems in front of goal continued.
Nine minutes after the restart Kang Min-soo should have made it 2-0 when Cho Jae-jin’s header across the six-yard box gave him the simplest of opportunities, only for his attempt to cannon off the head of Richardo Salampessy.
Fourteen minutes later Kim Jung-woo looked odds on to score his second of the night when Lee Chun-soo set him up to score 12 yards from goal, but instead the Nagoya Grampus Eight midfielder’s shot was saved by Markus.
The Koreans, however, managed to successful run down the clock, breaking the hearts of the 90,000 Indonesian fans and setting up a possible showdown with Iran in the last eight
Posted by
Muhammad Akhirudin Kurnianto
at
11:10 PM
0
comments
31 May 2007
KAMI BUKAN MUSUH NEGARA, JANGAN TEMBAK!!!
30 Mei 2007 menjadi saksi atas aksi kekerasan yang dilakukan oleh TNI terhadap rakyatnya. setidaknya 5 meninggal dunia dan salah satunya adalah balita berumur 3 tahun bernama khoirul anwar. Siapa yang salah, anarkisme yang salah. siapa yang mengajarkan? sistem yang mengajarakan. Jika dihitung mundur ini bukan kali yang pertama. Saat orde baru berkuasa TNI benar benar luar biasa kejam.
sebut saja DOM (daerah operasi militer di aceh), tragedi tanjung priyok, tragedi triksakti dll. Untuk yang terakhir hal tersebut dilakukan oleh polisi saat Polri masih menjadi sekutu TNI. Berapa darah yang harus ditumpahkan lagi?. sebenarnya rakyat kecil siapa yang membela. apakah layak sikap ini ditunjukkan pada TNI yang harusnya lebih dewasa melihat persoalan. Jika hanya karena suatu persoalan sepele memngapa harus mengangkat senjata terhadap anak negeri. bahkan pada mereka yang tidak bersenjata apapun. Ini bukan pemberontakan bung!. ini hanya masalah sengketa tanah, walhasil perebutan kepentingan yang absurd akhirnya menjadikan darah anak negeri menggelegak bagi . Sudah berapa kali TNI melakukan kesalahan fatal?, jika dihitung siapa yang bayar seragam, makanan, senjata, dam gaji mereka. bukankah rakyat yang baru sehari yang lalu mereka tembaki tersebut yang membayarnya?. Kesengajaan atau tidak, terdesak atau mendesak mereka yang bersenjata harusnya lebih hati-hati menggunakan senjatanya. Mungkin lebih baik TNI Al (marinir) diberangkatkan ke afghanistan biar agak sedikit berlatih dengan kematian, daripada harus menembaki anak negeri sendiri.
Apa yang akan pemerintah lakukan?, selalu dengan kata-kata akan diusut tuntas tapi pada kahirnya ndak tuntas-tuntas. Bahasa yang menipu dan tidak menunjukkan sikap positif sedikitpun. jika saja pemerintah kita lebih adil, dan tidak menciptakan dengan memulai kekerasan kemungkinan besar kita juga tidak akan melakukan hal yang sama. Bukankah cinta damai adalah harapan banyak orang. Semoga darah yang tertumpah itu menyuburkan semangat anak negeri untuk memperbaiki kebusukan negara ini.
Posted by
Muhammad Akhirudin Kurnianto
at
7:27 PM
0
comments
24 May 2007
MENANG ATAU PSEUDOMENANG
Hari kamis tgl 24 Mei 2007, dini hari waktu indonesia bagian barat telah menjadi saksi keperkasaan AC Milan menundukkan Steven Gerrard dan kawan-kawan. Paling tidak puluhan juta pasang mata di Indonesia ikut menjadi saksi atas kehebatan pasukan Ancheloti membuat dua gol di final liga champion di Athena. Kemenangan 2-1 bagi milan atas liverpool, bagi masing-masing pendukung pasti akan merasa senang atau sedih tinggal anda adalah pendukung mana?.
Kita ucapkan selamat pada yang menang dan jangan sedih bagi yang kalah, you never walk alone ( kamu tidak berjalan sendirian) itu ungkapan yang selalu mengiringi kemanapun dan apapun kondisi klub yang mereka banggakan Liverpool. Eropa mungkin saat itu benar-benar menjadikan momen satu tahunan ini daya tarik tersendiri, apalagi ketika pertandingan sebelum dimulai, jauh-jauh hari persiapan yang pasti menghabiskan dana jutaan poundsterling itu sudah digembar-gemborkan. Belum lagi prediksi-prediksi yang membuat penggilan bola semakin terpacu adrenalinnya. Rumah judi sepertinya tidak kehabisan ide untuk menetapkan bursa taruhan untuk kedua tim yang sudah berlaga tersebut. Luar biasa memang pengaruh dari sebuah pertandingan sepakbola. Seakan-akan stadium sepakbola itu adalak katedral yang berisi pendeta-pendeta lapangan yang mengajarkan ayat-ayat suci lewat gol-gol spektakulernya.
Tidak usah jauh-jauh ke Eropa malam pertandingan (waktu indonesia) final champion 2007 ini saja tampak terlihat meramaikan kota kecil Purwokerto dengan menggelar nonton bareng dimana sebelumnya diawali pertunjukkan band-band terkenal se-Purwokerto yang diadakan di lapangan dekat kampus UNSOED. Penonton bersorak riang ketika gol-gol tercipta seakan ada magnet yang mengharuskan mereka berteriak. Pasti mereka telah lupa saat itu sudah jam tiga pagi, begadang menjadi anjuran massal untuk pertandingan ini. Umumnya hal ini telah menjadi kebiasaan dan bisa jadi akan membudaya, perilaku-perilaku yang dipengaruhi oleh even tahunan ini sebenarnya sangat variatif dan banyak. Sebagai misal ada pengaruh model judi profesional ala bursa taruhan yang muncul di level elit Eropa, dilakukan juga oleh sebagian orang-orang yang berada dikampung-kampung dan kebetulan ikut nonton pertandingan ini.
Jarak ribuan mil ternyata tidak mempengaruhi orang untuk tidak diam meniru dengan judi. Uang taruhan pun tidak begitu besar ada yang 20.000 samapai ratusan ribu. Bahkan mahasiswa-pun ikut ambil bagian pula untuk memainkan uang haram ini.
Sebenarnya kemenangan yang dirasa para penggila bola itu semu, apalagi ketika kita orang indonesia yang berteriak kegirangan atas sebuah kemenangan klub sepakbola. Kenapa? karena jelas hal tersebut tidak memberi pengaruh positif sedikit-pun dalam hidup kita, well kalau hanya untuk hiburan mungkin itu tidak masalah akan tetapi kalau kemudian harus menjadi way of life atau persoalan hidup mati kita rasa-rasanya ada yang nggak pas. Belum lagi ada yang sampai berjudi dan kalah, kemudian membodoh-bodohkan para pemain yang kita tonton di televisi. Mungkin saat itu kita sebenarnya yang bodoh. Daya hipnotis gaya hidup seperti ini menjadi racun yang sangat susah dicari penawanarnya. Apalagi kalau kemudian iming-iming tersebut telah menciptakan masyarakat hedonis, dengan apologi menghilangkan stress. Tapi stress tidak hilang malah tambah stress karena uang habis. Hiburan yang mahal pada akhirnya. Lihat saja rakyat tetap banyak yang miskin, Eropa tambah kaya pahami berapa hak siar yang harus dibeli oleh stasiun televisi hanya untuk satu pertandingan ini?.
Selain itu sepakbola indonesia masih itu-itu saja dan tidak berkembang sampai level dunia, bahkan kita juga belum bisa melihat ada satu pemain kita yang merumput di klub elit Eropa yangmana kebetulan membawa klubnya masuk final liga champion sampai mengangkat trofi kemenangan. Kebanyakan pemain tersebut bukankah dari negara lain?, mungkin kita perlu tinjau ulang semangat kebangsaan kita. Atau kita perlu belajar pada Frederik Canoute yang dibesarkan oleh perancis tapi tidak memilih timnas perancis yang dibela akan tetapi Mali. Ada hal yang dia tetap pertahankan dalam bermain bola saat sekarang membela klub elit spanyol Sevilla. Dia enggan memakan logo sponsor yang merupakan perusahaan rumah judi dengan alasan bertentangan dengan keyakinannya. Kebetulan Canoute seorang muslim. Mengagumkan memang, apalagi prestasi sevilla semakin cemerlang akhir-akhir ini dengan menjawarai gelar Eropa lewat Piala UEFA. Tidak sedikti pengaruh Canoute disana. Bagaimana apakah kita akan larut pada pseudo kemenangan atau kita wujudkan kemenangan itu sesungguhnya dengan mengangkat trofi Piala Dunia di suatu hari nanti. Tanpa harus menjadi orang bodoh tentunya dengan menghabiskan banyak waktu dan uang untuk sesuatu yang sia-sia Kita lihat saja.
Posted by
Muhammad Akhirudin Kurnianto
at
7:17 PM
0
comments
23 May 2007
NABI MUHAMMAD SAW. (bagian 3)
Beliau adalah manusia seperti manusia yang lain dalam naluri,
fungsi fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat
dan keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan Tuhan dan
kedudukan istimewa di sisi-Nya, sedang yang lain tidak
demikian. Seperti halnya permata adalah jenis batu yang sama
jenisnya dengan batu yang di jalan, tetapi ia memiliki
keistimewaan yang tidak dimiliki oleh batu-batu lain. Dalam
bahasa tafsir Al-Quran, "Yang sama dengan manusia lain adalah
basyariyah bukan pada insaniyah." Perhatikan bunyi firman
tadi: basyarun mitslukum bukan insan mitslukum.
Atas dasar sifat-sifat yang agung dan menyeluruh itu, Allah
Swt. menjadikan beliau sebagai teladan yang baik sekaligus
sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan)
"Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi
yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari
kemudian." (QS Al-Ahzab [33]: 2l).
Keteladanan tersebut dapat dilakukan oleh setiap manusia,
karena beliau telah memiliki segala sifat terpuji yang dapat
dimiliki oleh manusia
Dalam konteks ini, Abbas Al-Aqqad, seorang pakar Muslim
kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat diklasifikasikan
ke dalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerta, dan yang tekun
beribadah.
Sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. membuktikan bahwa beliau
menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut.
Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta
pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang
bersikap objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum
berganda kepada beliau, sekali pada saat memandangnya melalui
kacamata ilmu dan kemanusiaan, dan kedua kali pada saat
memandangnya dengan kacamata iman dan agama.
Banyak fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad Saw.,
antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan) (QS Al-Fath [48]: 8), yang pada akhirnya bermuara
pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.
Di sini fungsi beliau sebagai syahid/syahid akan dijelaskan
agak mendalam.
Demikian itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu
menjadi saksi terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad Saw.)
menjadi saksi terhadap kamu ... (QS Al-Baqarah [2]: 143)
Kata syahid/syahid antara lain berarti "menyaksikan," baik
dengan pandangan mata maupun dengan pandangan hati
(pengetahuan). Ayat itu menjelaskan keberadaan umat Islam pada
posisi tengah, agar mereka tidak hanyut pada pengaruh
kebendaan, tidak pula mengantarkannya membubung tinggi ke alam
ruhani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka berada di
antara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi
saksi dalam arti patron/teladan dan skala kebenaran bagi
umat-umat yang lain, sedangkan Rasulullah Saw. yang juga
berkedudukan sebagai syahid (saksi) adalah patron dan teladan
bagi umat Islam. Kendati ada juga yang berpendapat bahwa kata
tersebut berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. akan menjadi saksi
di hari kemudian terhadap umatnya dan umat-umat terdahulu,
seperti bunyi firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Nisa' (4):
41:
Maka bagaimanakah halnya orang-orang kafir nanti apabila Kami
menghadirkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami
hadirkan pula engkau (hai Muhammad) sebagai saksi atas mereka
(QS Al-Nisa, [4]: 41).
Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih oleh mereka yang
menelusuri jalan lurus (shirath al-mustaqim), sehingga mereka
mampu menyaksikan yang tersirat di balik yang tersurat. Mereka
yang menurut Ibnu Sina disebut "orang yang arif," mampu
memandang rahasia Tuhan yang terbentang melalu qudrat-Nya.
Tokoh dari segala saksi adalah Rasulullah Muhammad Saw. yang
secara tegas di dalam ayat ini dinyatakan "diutus untuk
menjadi syahid (saksi)."
Sikap Allah Swt. terhadap Nabi Muhammad Saw.
Dari penelusuran terhadap ayat-ayat Al-Quran ditemukan bahwa
para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. telah diseru oleh Allah
dengan nama-nama mereka; Ya Adam..., Ya Musa..., Ya Isa...,
dan sebagainya. Tetapi terhadap Nabi Muhammad Saw., Allah Swt.
sering memanggilnya dengan panggilan kemuliaan, seperti Ya
ayyuhan Nabi..., Ya ayyuhar Rasul..., atau memanggilnya dengan
panggilan-panggilan mesra, seperti Ya ayyuhal muddatstsir,
atau ya ayyuhal muzzammil (wahai orang yang berselimut). Kalau
pun ada ayat yang menyebut namanya, nama tersebut dibarengi
dengan gelar kehormatan. Perhatikan firman-Nya dalam surat
Ali-'Imran (3): 144, Al-Ahzab (33): 40, Al-Fat-h (48): 29, dan
Al-Shaff (61): 6.
Dalam konteks ini dapat dimengerti mengapa Al-Quran berpesan
kepada kaum mukmin.
"Janganlah kamu menjadikan panggilan kepada Rasul di antara
kamu, seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang
lain... (QS Al-Nur [24]: 63).
Sikap Allah kepada Rasul Saw. dapat juga dilihat dengan
membandingkan sikap-Nya terhadap Musa a.s.
Nabi Musa a.s. bermohon agar Allah menganugerahkan kepadanya
kelapangan dada, serta memohon agar Allah memudahkan segala
persoalannya.
"Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah untukku
urusanku (QS Thaha [20]: 25-26).
Sedangkan Nabi Muhammad Saw. memperoleh anugerah kelapangan
dada tanpa mengajukan permohonan. Perhatikan firman Allah
dalam surat Alam Nasyrah, Bukankah Kami telah melapangkan
dadamu? (QS Alam Nasyrah [94]: 1).
Dapat diambil kesimpulan bahwa yang diberi tanpa bermohon
tentunya lebih dicintai daripada yang bermohon, baik
permohonannya dikabulkan, lebih-lebih yang tidak.
Permohonan Nabi Musa a.s. adalah agar urusannya dipermudah,
sedangkan Nabi Muhammad Saw. bukan sekadar urusan yang
dimudahkan Tuhan, melainkan beliau sendiri yang dianugerahi
kemudahan. Sehingga betapapun sulitnya persoalan yang dihadapi
-dengan pertolongan Allah-beliau akan mampu menyelesaikannya.
Mengapa demikian? Karena Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad
dalam surat Al-A'la (87): 8:
"Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah."
Mungkin saja urusan telah mudah, namun seseorang, karena satu
dan lain sebab-tidak mampu menghadapinya. Tetapi jika yang
bersangkutan telah memperoleh kemudahan, walaupun sulit urusan
tetap akan terselesaikan.
Keistimewaan yang dimiliki beliau tidak berhenti di sana saja.
Juga dengan keistimewaan kedua, yaitu "jalan yang beliau
tempuh selalu dimudahkan Tuhan" sebagaimana tersurat dalam
firman Allah, "Dan Kami mudahkan kamu ke jalan yang mudah."
(QS Al-A'la [87]: 8).
Dari sini jelas bahwa apa yang diperoleh oleh Nabi Muhammad
Saw. melebihi apa yang diperoleh oleh Nabi Musa a.s., karena
beliau tanpa bermohon pun memperoleh kemudahan berganda,
sedangkan Nabi Musa a.s. baru memperoleh anugerah "kemudahan
urusan" setelah mengajukan permohonannya.
Itu bukan berarti bahwa Nabi Muhammad Saw. dimanjakan oleh
Allah, sehingga beliau tidak akan ditegur apabila melakukan
sesuatu yang kurang wajar sebagai manusia pilihan.
Dari Al-Quran ditemukan sekian banyak teguran-teguran Allah
kepada beliau, dari yang sangat tegas hingga yang lemah lembut
Perhatikan teguran firman Allah ketika beliau memberi izin
kepada beberapa orang munafik untuk tidak ikut berperang.
"Allah telah memaafkan kamu. Mengapa engkau mengizinkan
mereka? (Seharusnya izin itu engkau berikan) setelah terbukti
bagimu siapa yang berbohong dalam alasannya, dan siapa pula
yang berkata benar (QS Al-Tawbah [9]: 43)
Dalam ayat tersebut Allah mendahulukan penegasan bahwa beliau
telah dimaafkan, baru kemudian disebutkan "kekeliruannya."
Teguran keras baru akan diberikan kepada beliau terhadap
ucapan yang mengesankan bahwa beliau mengetahui secara pasti
orang yang diampuni Allah, dan yang akan disiksa-Nya, maupun
ketika beliau merasa dapat menetapkan siapa yang berhak
disiksa.
"Engkau tidak mempunyai sedikit urusan pun. (Apakah) Allah
menerima tobat mereka atau menyiksa mereka (QS Ali 'Imran [3]:
128).
Perhatikan teguran Allah dalam surat 'Abasa ayat 1-2 kepada
Nabi Muhammad Saw., yang tidak mau melayani orang buta yang
datang meminta untuk belajar pada saat Nabi Saw. sedang
melakukan pembicaraan dengan tokoh-tokoh kaum musyrik di
Makkah
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah
datang seorang buta kepadanya..."
Teguran ini dikemukakan dengan rangkaian sepuluh ayat, dan
diakhiri dengan:
"Sekali-kali jangan (demikian). Sesungguhnya ajaran-ajaran
Allah adalah suatu peringatan" (QS 'Abasa [80]: 11).
Nabi berpaling dan sekadar bermuka masam ketika seseorang
mengganggu konsentrasi dan pembicaraan serius pada saat rapat;
hakikatnya dapat dinilai sudah sangat baik bila dikerjakan
oleh manusia biasa. Namun karena Muhammad Saw. adalah manusia
pilihan, sikap dernikian itu dinilai kurang tepat, yang dalam
istilah Al-Quran disebut zanb (dosa).
Dalam hal ini ulama memperkenalkan kaidah: Hasanat al-abrar,
sayyiat al-muqarrabin, yang berarti "kebajikan-kebajikan yang
dilakukan oleh orang-orang baik, (dapat dinilai sebagai) dosa
(bila diperbuat oleh) orang-orang yang dekat kepada Tuhan."
--oo0oo--
Disadari sepenuhnya bahwa uraian tentang Nabi Muhammad Saw.
amat panjang, yang dapat diperoleh secara tersirat maupun
tersurat dalam Al-Quran, maupun dari sunnah, riwayat, dan
pandangan para pakar. Tidak mungkin seseorang dapat menjangkau
dan menguraikan seluruhnya, karena itu sungguh tepat
kesimpulan yang diberikan oleh penyair Al-Bushiri,
"Batas pengetahuan tentang beliau, hanya bahwa beliau adalah
seorang manusia, dan bahwa beliau adalah sebaik-baik makhluk
Allah seluruhnya."
Allahumma shalli wa sallim 'alaih. []
--------------------------------------------------------------------------------WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931 Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net
Posted by
Muhammad Akhirudin Kurnianto
at
9:48 AM
0
comments
